Arsenal Indonesia
Bergabung dengan AIS | Review - Indra 'Kabayan' Pramana |
|
|
| Tuesday, 05 June 2007 | |
|
ARSENAL
WENGER 3 : PELURU MERIAM YANG TIDAK KUNJUNG KENA
Latar Belakang Musim 2006/2007 Perjalanan Arsenal di musim ini layaknya disebut sebagai kapal yang tidak sampai-sampai juga ke tujuannya, atau mungkin karena Gunners berlambang meriam, mungkin pelurunya tidak sampai-sampai kena ke targetnya (atau malah mungkin kandas di tengah jalan?) Ternyata dampak negatif dari hilangnya kapten Patrick Vieira di musim lalu masih belum habis juga. Kerja Wenger pada era ‘Arsenal 3’ nya tampaknya masih belum menemui titik terang lagi, setelah sebelumnya titik terang terlihat begitu menjanjikan saat Arsenal mencapai final Champions League di musim 2005/2006. Lagi-lagi yang kalau kita melihat season 2006/2007 ini secara keseluruhan, hampir semua kesalahan ditimpakan pada kurangnya pengalaman para pemain – mereka yang masih muda kurang mampu bersaing dengan kerasnya liga premiership. Wenger pun tampak sangat pelit dengan hanya membeli sedikit pemain dan terus menerus membeli pemain muda. Hal ini membawa kita kepada suatu pertanyaan: Apakah sebenarnya target Wenger dengan timnya yang sangat muda ini? Tentu saja jawabannya adalah melebihi prestasi Arsenal era ‘Arsenal Wenger 1 Adams - Wright, dan bahkan ‘Arsenal Wenger 2 Henry – Vieira yang memecahkan rekor yang akan dikenang sepanjang masa – 49 kali tidak terkalahkan. Tentu saja kita berharap Arsenal Wenger 3, Fabregas – Van Persie akan menciptakan sesuatu yang lebih luar biasa. Oleh karena itu, mari kita mulai melihat setahun kebelakang, mengapa Arsenal Wenger 3 ini dapat disebut sebagai meriam yang pelurunya tidak sampai-sampai ke targetnya.
Musim 2006/2007 Stadion baru, semangat baru – di bawah naungan sponsorship dari Emirates, stadion Ashburton Grove ini diharapkan dapat menggantikan Highbury yang ukurannya relatif lebih kecil daripada lapangan standar dan menjadi investasi jangka panjang. Pemain baru, semangat baru juga? Belum cukup membuang Vieira, Ashley Cole dan Jose Antonio Reyes yang kerap berulah memaksa Wenger “ikut” membuangnya. Sol Campbell dan Robert Pires yang mungkin dianggap sudah uzur, ikutan hengkang dari Arsenal dengan berbagai alasannya sendiri. Begitu pula Legenda Arsenal sepanjang masa, the non-flying Dutchman Dennis Bergkamp, pensiun. Karena kesetiannya yang begitu luar biasa, Arsenal memberikannya sebuah pertandingan testimonial sebagai salam perpisahan.
Beruntung, Wenger membawa angin segar – Rosicky datang menggantikan Pires (dengan 2 golnya di Piala Dunia 2006 saat melawan USA, air liur kita langsung bercucuran.) dan Gallas, swap deal dengan Cole – barter pemain bermasalah (lagi-lagi membuat kita berliur, Gallas saat itu dapat dikatakan sebagai tandemnya Cannavaro sebagai duet bek terbaik dunia…) dan Baptista, swap loan dengan Reyes – yang pada 2005/2006 diincar Wenger mati-matian untuk menggantikan Vieira.
Dibuka dengan awal yang kurang baik di Premiership, seri melawan Aston Villanya Martin O’Neill yang baru 1-1, tampaknya Arsenal begitu kesulitan untuk memasukan bolanya ke jaring Thomas Sorensen, tetapi kita dapat senang juga setelah “akhirnya”, kita bisa melihat Theo Walcott melakukan debutnya bersama Arsenal. Di pertandingan berikutnya, malah Arsenal kalah 0-1 dari Manchester City. Hari-hari awal yang tampak kurang menjanjikan bagi Arsenal.
Dari situ hari-hari Arsenal mulai membaik, 6 kemenangan diperoleh dari 7 pertandingan, dan puncaknya berada saat Arsenal mengalahkan rival utamanya, Manchester United 1-0. Tanpa Henry dan Van Persie di lini depan, Arsenal tampaknya dapat mengimbangi MU. Walaupun Gilberto gagal mengeksekusi penalti akibat ditahan Tomasz Kuszczak, Arsenal tetap berhasil berkat Adebayor. Sempat dikatakan, sentuhan pertama Adebayor adalah menerima bola, sentuhan keduanya adalah tackling – saking jeleknya kontrol bola Adebayor… Tetapi pertandingan itu membuat nama Adebayor mulai enak didengar di kuping fans Arsenal berkat golnya dengan kerjasama yang indah dari Wonderkid Arsenal, Fabregas.
Kekalahan berikutnya muncul dari team yang baru saja menjuarai EURO Cup, CSKA Moscow di Champions League, 0-1 dan 6 pertandingan berikutnya dilalui dengan hanya 3 kali kemenangan, dilengkapi dengan 1 kekalahan melawan West Ham yang menghasilakan cekcok mulut antar Wenger dan pelatih West Ham kala itu, Alan Pardew. Masih teringat dengan jelas di kepala saya, gol Marlon Harewood yang membuat saya meninju dinding sekeras-kerasnya. Alan Pardew yang berlagak berlebihan turut memancing emosi Wenger, sampai kita akan teringat pada pertengkaran Wenger dengan Martin Jol saat Arsenal ditahan imbang Tottenham musim sebelumnya.
Harapan mulai kembali muncul saat Arsenal membantai Liverpool 3-0. Defender baru Arsenal, Gallas dengan nomor punggung 10 warisan dari Dennis Bergkamp mencetak gol indah berkat kerjasamanya dengan Fabregas.
Mungkin pertandingan yang paling mengesalkan selama musim 2006/2007 adalah saat Arsenal menjamu CSKA Moscow untuk kedua kalinya. Seri 0-0 akibat entah Arsenal ketiban sial, atau memang Arsenal tidak mampu sama sekali menciptakan gol akibat terlalu banyak bermain indah. Seharusnya pertandingan itu bisa dimenangkan Arsenal, 7-0 bila semua peluang emas berhasil dimanfaatkan.
Kala itu, November, kepercayaan diri Arsenal sedang rendah-rendahnya. Arsenal sulit sekali untuk menang apabila kebobolan terlebih dahulu oleh tim lawan. Pertandingan terakhir kualifikasi grup liga Champions melawan Hamburg, membangkitkan harapan Arsenal dari anggapan yang demikian. Arsenal berhasil menang 3-1 walaupun lebih dulu tertinggal 0-1 berkat gol indah Rafael Van der Vaart.
Dari situ performa Arsenal naik turun akibat berbagai pemain yang cedera dan kurang konsistennya permainan Arsenal. Kekalahan berturut-turut melawan tim yang sempat dikritik Wenger akibat permainan fisiknya yang kasar, Bolton dan berikutnya melawan Fulham seraya mulai menghilangkan harapan Arsenal kepada gelar Premiership.
Selama bulan Desember, lagi-lagi Arsenal hanya berhasil memenangkan separuh dari 8 pertandingan yang ada di bulan itu – tetapi bulan itu penuh dengan berbagai cerita.
Seri melawan Porto 0-0 membawa keduanya lolos babak penyisihan grup liga Champions. Di bulan itu pula, Ashley Cole kembali bertemu rekan-rekannya, tetapi dengan kaos Biru-Biru Chelsea. Kita bisa mengingat bagaimana Cole tidak henti-hentinya mengarang-ngarang berbagai kejelekan Arsenal dalam kasus pendekatan diam-diam pihak Chelsea kepada dirinya, sampai akhirnya Jens Lehmann mengeluarkan pernyataan balik untuk menyerang Cole. Gol jarak jauh Essien pada pertandingan itu, yang bermula dari pelanggaran Ashley Cole yang tidak dilihat wasit membawa Arsenal hanya sanggup imbang 1-1 dengan Chelsea.
Kemenangan terbesar Arsenal hadir saat melawan Blackburn, 6-2 , 2 hari sebelum Natal. Sampai pada hari itu, Van Persie masih bermain dengan saat indah dengan menjadi top scorer Arsenal – sebelum didera cedera serius di Januari. Bulan itu ditutup dengan kekalahan melawan Sheffield, walaupun kiper Sheffiled, Patrick Kenny cedera dan karena tidak adanya cadangan kiper memaksa bek Phil Jagielka menggantikannya – Arsenal masih tidak mampu membobol dan kalah 0-1.
Mungkin Januari adalah bulan paling indah. 6 kemenangan dari 8, termasuk berturut-turut mengalahkan Liverpool 3-1 dan 6-3 di FA Cup dan Carling Cup. Permainan Arsenal menjadi semakin indah, kerjasama mulai terjalin dengan baik di lini tengah, dan Rosicky menjadi semakin ‘in’ dengan permainan Arsenal. Tetapi tidak ada yang mampu mengalahkan euforia, saat sundulan Thierry Henry di injury time membuat pendukung Manchester United berteriak kecewa di kafe-kafe saat nonton bareng untuk kedua kalinya dalam satu musim (bahkan di era 49 kali tidak terkalahkan, Arsenal tidak berhasil mengalahkan MU). 2-1, Arsenal mengalahkan MU.
Tamat, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan bulan Februari dan Maret. Toure sempat mengumbar bahwa Arsenal akan memenangkan 3 turnamen – FA Cup, Carling Cup dan Liga Champions untuk menggantikan gelar Premiership yang sudah semakin sulit diraih. Kegagalan pertama hadir saat para pemain muda Arsenal dikalahkan Chelsea di final Carling Cup 1-2, menghadirkan percekcokan antar berbagai pemain di akhir pertandingan, membuat Wenger mengkritik habis-habisan pihak FA akibat mengkartu merah Toure dan Adebayor.
Berikutnya adalah terdepaknya Arsenal dari FA Cup berkat gol Benny McCarthy, 0-1. Dan diakhiri dengan seri 1-1 melawan PSV Eindhoven (1-2 total agregat) menandai keluarnya Arsenal dari liga Champions. Tamat. Dari situ Arsenal benar-benar kehilangan sentuhan ajaibnya. Moral pemain begitu jatuh, banyak pemain cedera termasuk Henry dan Robin Van Persie. Arsenal hanya mampu memenangkan 4 dari 11 pertandingan yang tersisa di premiership. Hanya mampu seri 1-1 melawan Chelsea yang hanya bermain dengan 10 orang, ditahan imbang di saat-saat akhir oleh Totenham 2-2, lagi-lagi kalah melawan West Ham 0-1, yang kali ini ditukangi Alan Curbisley, dan dibantai 1-4 oleh Liverpool.
Gelar juara direngkuh MU. Arsenal bahkan tidak bisa mengambil keuntungan untuk duduk di posisi 3 saat seri 0-0 di pertandingan terakhir yang akhirnya diduduki oleh Liverpool. Arsenal kembali untuk kedua kalinya secara berturut-turut duduk di posisi 4. Kalau kita mengingat satu dekade ke belakang, 2 musim ini terakhir adalah pencapaian terburuk bagi Arsenal.68 poin dan hanya berhasil mencetak 63 gol.
Kesimpulan 2006 /2007
Permainan indah Arsenal di tingkat klub mungkin layak disejajarkan dengan permainan indah Brazil. “Joga Bonito”, kalau kata salah satu produk olahraga. Tim ini semakin menunjukan kematangannya dengan passing-passing dari tengah yang dimotori oleh Fabregas. Kita dapat melihat Wenger membangun timnya dengan berpusat pada Fabregas, dengan bek sayap yang agresif dan sayap yang memiliki dribbling yang luar biasa baik.
Tentang pemain Arsenal, Kombinasi Hleb – Fabregas – Eboue begitu sering terlihat dan menjadi sesuatu yang semakin berbahaya bagi tim lawan. Clichy dapat begitu baik menggantikan Ashley Cole dengan staminanya yang tidak habis-habisnya. Hleb - Rosicky dapat dikatakan telah berhasil menggantikan Ljungberg – Pires, mereka bahkan tampak seperti memiliki jalinan ‘telepati’ dalam kerjasamanya.
Satu hal yang hilang dari permainan Arsenal di musim ini adalah serangan baliknya yang luar biasa cepat. Musim-musim sebelumnya Arsenal mampu melakukan serangan balik sampai gol dalam waktu kurang dari 15 detik, kini Arsenal terlalu banyak menahan bola di tengah dan memperlambat serangan itu.
Kurangnya pengalaman juga menjadi salah satu faktor Arsenal kerap kali gagal mencetak gol dan kebobolan oleh tim lawan. Pemain muda tampak beberapa kali kebingunan apabila passing-passing Arsenal di lini tengah mulai ditekan dan tidak berhasil-hasil mencetak gol akibatnya penuhnya pemain lawan di kotak penalti. Pemain berpengalaman yang sudah mulai tua seperti Ljungberg juga sudah mulai tumpul, lari-larinya tidak lagi seberbahaya dulu. Pemain berpengalaman Arsenal harus terus sabar dan membantu membimbing mereka yang masih muda untuk terus berkembang, bukan malah menyalahkan. |
| Next > |
|---|
ARSENAL 5 - 0 FC PORTO
Rabu, 10 Maret 2010 | EUFA CHAMPIONS LEAGUE QTR FINAL
Gol: Bendtner (3), Nasri, Eboue
ARSENAL 3 - 1 BURNLEY
Sabtu, 6 Maret 2010 | ENGLISH PREMIER LEAGUE
Gol: Cesc, Walcott, Arshavin
STOKE 1 - 3 ARSENAL
Minggu, 28 Februari 2010 | ENGLISH PREMIER LEAGUE
Gol: Bendtner, Cesc (P), Vermaelen