Arsenal Indonesia
Bergabung dengan AIS | Review - Jacoz |
|
|
| Monday, 04 June 2007 | |
|
WHAT A SEASON!!! Itulah kata yang terucap melihat perjalanan Arsenal di musim ini. Berbekal rasa optimis dan penasaran yang luar biasa dari langkah Arsenal di musim 2005-2006. Meski terseok di pentas Liga Domestik, tetapi Arsenal telah menunjukkan potensi juaranya di Liga Champions. Lihat saja prestasi tak terkalahkan, clean sheet dan sepak bola atraktifnya hingga membawa Arsenal sukses untuk pertama kalinya menembus tangga final Liga Champions. Meski hasil dari final tersebut sangat mengecewakan, tetapi terlihat kalau saat itu Arsenal kalah keburuntungan dibanding Barcelona. Penampilan Arsenal saat itu sudah bagus, sayang karena gara-gara sedikit kelengahan yang berbuah satu gol offside Eto’o yang mengubah segalanya. Terlihat sekali keberuntungan beralih dari Arsenal di saat-saat terakhir ketika satu tangan Arsenal telah menempel erat di piala Liga Champions yang sangat kita idam-idamkan itu. Sangat menyakitkan mengingat momen itu. Perlu seminggu lebih menjauh dari dunia bola untuk melupakan kepahitan itu. Tapi melihat apiknya permainan Arsenal saat itu membawa satu keyakinan tersendiri dalam diri ini kalau di musim ini 2006-2007, Arsenal akan bisa berhasil. Rasa optimitis bergelanyut dalam hati kalau di musim ini Arsenal akan bisa meraih juara, minimal di Liga Champions yang sebelumnya telah tertunda berada di genggaman kita. Musim baru belum bergulir, tiba-tiba muncul masalah yang sebelumnya sudah tampak terselesaikan. Ashley Hole, yang dulunya telah terpergok makan siang bersama Mourinho dan telah minta maaf dan bersedia memperpanjang kontraknya satu tahun sebagai wujud penyesalannya. Dari sini seharusnya masalah tampak sudah selesai. Sesudah kejadian itu, dia sudah tidak macam-macam lagi. Namun, ternyata pepatah “Serigala tetaplah selalu serigala” memang terbukti di sosok Ashley Hole ini. Setelah musim berakhir, serigala ini mulai beraksi, melepas segala bulu dombanya yang dia pakai untuk mengelabuhi kita kalau dia sudah bertobat. Tanpa angin, tanpa badai tiba-tiba dia menjelek-jelekkan Arsenal di publik dan berkoar ingin pindah ke Chelsea. Perkataan tak tahu diri yang dia lontarkan yaitu menganggap Arsenal telah menempatkan dirinya di mulut hiu dengan tak mengijinkannya pindah ke Chelsea. Dirinya menganggap tidak dihargai seperti Henry. Sungguh hal menggelikan. Apa dia pikir, dia sudah menciptakan 1 juta gol untuk Arsenal? Apa dia pikir telah begitu setia pada Arsenal sehingga dia layak mendapatkan penghormatan sebegitu besar? Tindakan keterlaluannya ini sangat terlihat dengan tidak mengundang Wenger di pesta pernikahannya. Kebangetan banget, orang yang berjasa membuatnya besar, tidak diundang. Kalau mungkin aku yang jadi manajer si Ashley Hole ini, begitu masuk akan kusuruh dia ngepel WC! Keterlaluan banget! Pemain seperti ini masih perlukah dipertahankan dan dinaikkan gajinya? Satu jawaban, tentu tidak! Serigala ini harus keluar dari Arsenal! Meski sehebat apapun kemampuannya tapi kalau sifatnya semacam ini, sangat tidak patut dipertahankan. Masalah ini jadi cukup pelik, karena Chelsea si klub licik semakin memperkeruh suasana. Arsenal sudah bersedia melepas si Hole, tapi Chelsea hanya mau membayar dengan harga yang rendah. Sampai ke akhir masa transferpun, masalah ini belum terselesaikan. Bahkan si serigalapun bersedia menggunakan lagi bulu dombanya untuk jadi anak manis lagi bermain di Arsenal karena Chelsea yang licik tidak mau membelinya. Tapi untunglah akhirnya ini berakhir dengan solusi dibarter dengan William Gallas plus uang 5 juta pounds, meski seharusnya uangnya harus lebih dari itu, minim-minim 10 juta pounds. Apakah hanya ini masalahnya pada pemain? Tidak ternyata. Sebelumnya kita juga sempat was-was atas bujukan setan dari Barcelona untuk Henry dan untunglah loyalitas Henry masih besar dan mau menandatangi kontrak baru dengan Arsenal. Masalah muncul di pemainnya yaitu Reyes. Entah kenapa tiba-tiba, beredar rumor dia sangat ingin kembali ke Spanyol. Padahal sebelumnya dia telah menandatangi kontrak baru dan bahkan berencana mengajak Fernando Torres untuk bergabung dengan dirinya di Arsenal. Tetapi dugaan utama mengarah pada sang iblis, yaitu Real Madrid. Dengan liciknya, si Calderon memutar lagu masa kecil di depan Reyes, sehingga membuat diri Reyes yang kurang kuat itu tiba-tiba meneteskan air mata segalon untuk rindu pulang ke Spanyol. Ditambah dengan membujuk keluarga dan pacar Reyes, membuat Reyes tak kuasa mengikat matanya untuk tidak menangis demi tidak kembali ke Spanyol. Real pun menjalankan niat setannya, pura-pura tidak mau beli Reyes demi dapat harga murah. Reyes terus merengek dijual ke Real, sampai membuat Wenger kesal. Kalau memang tidak ada yang mau, tidak gunanya terus merengek. Masalah inipun baru selesai di tanggal akhir masa transfer dengan ditukarnya pinjamnya Reyes dengan Julio Baptista, meski sebenarnya sayang untuk melepas Reyes. Karena di musim 2005/2006, permainan Reyes semakin membaik. Speed larinya dianggap secepat sepeda motor oleh Zidane. Bahkan Wenger pernah memprediksikan dia akan menjadi mesin gol bagi Arsenal. Sungguh sayang, tapi apa boleh buat bujuk setan dari Calderon telah membuat Reyes jadi seperti ini, segala ketegarannya pun runtuh tak bersisa. Akhirnya Arsenal resmi memulai musim baru ini dengan merekrut William Gallas, Julio Baptista, Tomas Rosicky dan Denilson. Si serigala licik Ashley Hole, home sick boy Reyes, Robert Pires, Pascal Cygan dan Sol Campbell punya menjadi arus balik keluar dari Arsenal. Rasa optimisme makin bergelanyut melihat penampilan resmi pertama Arsenal di ajang kualifikasi Liga Champions dimana sukses menggebuk Dinamo Zagreb 3-0 tanpa balas di kandang lawan. Dua gol disumbang oleh pemain harapan kita Cesc Fabregas dan satu lagi oleh Van Persie. Hasil ini sungguh-sungguh melambungkan asa tinggi kalau musim ini benar-benar akan menjadi milik Arsenal dan pemain-pemain mudanya seperti Cesc, Van Persie, Walcott, Adebayor, Hleb dan Rosicky. Liga Inggris pun dimulai dan lawan pertama yang harus dihadapi yaitu Aston Villa. Di forum Arsenal kita, semua pun yakin Villa akan menjadi korban pertama keganasan Arsenal di musim ini. Martin O’Neil akan memulai debutnya dengan menyedihkan. Tapi tak dinyana-nyana tampil perdana di stadion Emirates yang baru, Arsenal malah kecolongan gol dulu sebelum akhirnya dengan susah payah disamakan oleh Gilberto di menit-menit akhir. Hasil imbang ini mementik rasa kecewa, kita sudah yakin betul Arsenal bisa menang besar tapi kenyataan berkata lain. Ya sudahlah, mungkin ini masih laga pertama di stadion yang baru, mungkin para pemain Arsenal belum mulai panas sehingga sampai bisa terpeleset seperti ini. Tetapi next game, harus menang besar! Memang benar di laga berikutnya, Arsenal bisa unggul 2-1 atas tamunya Dinamo Zagreb yang membuka jalan Arsenal ke babak utama Liga Champions. Tetapi keadaan itu mulai terlihat berbalik ketika melawat ke kandang City. Defisit 1 gol dari penalti City pun tidak mampu dibalas oleh Arsenal hingga akhir pertandingan. Oh.. sungguh tidak dapat dipercaya baru di laga kedua, Arsenal sudah harus menelan kekalahan. Meski hanya kalah 0-1 tapi rasanya sangat berat untuk kita terima. Sungguh sangat berharap Arsenal dapat mengulangi sukses unbeaten di musim ini, tetapi langsung kandas di laga kedua. Wow begitu sesak memikirkan hal itu. Tapi hal itu sudah terjadi, yang terpenting di laga berikutnya harus selalu menang! Begitu pikir kita saat itu. Ternyata hasil imbang kembali kita peroleh kemudian saat melawan Boro dan itu sekali lagi terjadi di kandang sendiri dan harus kecolongan gol terlebih dahulu. Entah apa yang terjadi nampaknya begitu sulit Arsenal untuk bisa menang di kandang sendiri. Terlihat pemain-pemain Arsenal begitu takut untuk menendang ke arah gawang. Mereka lebih banyak mengoper ke temannya daripada menendang sendiri sampai memantik teriakan “Shoot! Shoot!” dari suporter Arsenal. Kekuatiran semakin bergelanyut karena lawan Arsenal berikutnya adalah si musuh bebunyutan Arsenal yang pemainnya Manyun mulu. Saat itu MU tampil bagus-bagusnya, selalu menang sehingga duduk di puncak klasemen. Arsenal harus sudah berhadapan dengan MU yang berada dalam top form di kandang mereka! Rasa kuatir pun muncul. Takut Arsenal kembali menelan kekalahan seperti di musim-musim lalu. Tetapi, di luar dugaan, Arsenal yang tidak diperkuat oleh Henry dan tampil hanya mengandalkan Adebayor sebagai satu striker di depan ternyata tampil memuaskan. Bertahan dan menyerang dengan sangat piawai. Permainan lebih dikuasai oleh Arsenal dan membuat serangan dari MU tidak berkembang. Ronaldo dan Rooney pun dibuat tidak bisa berkutik di bawah pengawalan pemain-pemain Arsenal. Puncaknya mendekati menit akhir pertandingan, tarian kampungan Ronaldo sukses direbut secara brilian oleh Cesc, kemudian secara cepat melewati satu pemain MU yang tak mampu menahan dan langsung diumpan menyamping ke arah Adebayor yang sudah berlari mendekat ke gawang MU. Adebayor dengan tenang dan mematikan melewati kawalan pemain belakang MU dan mendahului tangkapan kiper MU untuk mengirim bola dengan cepat ke arah kanan gawang MU dan GOL!!! Sungguh momen yang sulit dilupakan! Arsenal berhasil mengalahkan musuh bebuyutannya ini di kandang mereka. Hal yang sudah lama tidak dicapai oleh Arsenal. Perasaan saat itu sulit digambarkan, hampir serasa kita telah juara. Senangnya hati ini melihat bagaimana Wenger melompat kecil kegirangan di akhir pertandingan dan langsung merangkul Cesc yang saat itu tampil luar biasa. Hasil positif ini meningkatkan moral pemain Arsenal dan mengembalikan keoptimisan kita kalau Arsenal masih bisa juara musim ini. Terbukti 4 kemenangan beruntun langsung diraih. Namun mimpi buruk kembali terjadi saat melawan CSKA Moscow di kandang mereka. Arsenal kembali bermain tanpa roh dan harus menelan kekalahan. Pupus sudah harapan untuk mengulang rekor tak terkalahkan di Liga Champions seperti musim lalu. Namun saat bertandang ke kandang Reading, semuanya seakan sangat berbalik. Mulai dari menit pertama, Arsenal bermain sangat menyerang. Permainan satu-dua nan apik secara sempurna diperagakan oleh Arsenal. Alhasil serangan Arsenal layaknya gelombang pasang yang terus berdatangan mengepung Reading yang saat itu lagi naik daun karena berstatus tim promosi yang belum terkalahkan. Kalau boleh dikata, inilah permainan Arsenal yang terbagus di musim ini. Serangannya begitu efektif dan 4 gol tercipta tanpa balas. Sempurna! Inkonsistensi dan ketidakberuntungan ternyata masih juga bergelanyut. Saat melawan CSKA Moscow seharusnya merupakan kesempatan emas untuk membalas dendam kekalahan beberapa saat lalu. Peluang yang terjadi banyak sekali, tapi tidak satupun yang berhasil menjadi gol. Bola yang sudah di depan gawang kosong pun tidak berhasil menjadi gol. Kata Wenger seharusnya Arsenal bisa menang 7-0, tapi tak satupun dapat tercipta. Dengan hasil ini Arsenal mulai berat melangkah di Liga Champions. Hasil ini pun disusul dengan kekalahan menyakitkan di menit akhir atas West Ham, klub yang saat itu tidak pernah menang. Aksi selebrasi kampungan dari Pardew yang sangat kelewatan sempat membuat Wenger marah. Wenger yang terkenal tenang bisa semarah itu dan menolak berjabat tangan dengan Pardew. Musim terus berjalan, Arsenal berhasil meraih kemenangan penting 3-0 atas Liverpool yang golnya diciptakan bukan oleh stiker. Begitu juga saat Arsenal berhasil melibas Si Ayam Kampung Tottenham 3-0. Hasil bagus juga didapat saat menghadapi MU di Emirates, Arsenal tampil sekali lagi sebagai underdog. Meski di pertandingan ini, MU lebih banyak menekan Arsenal dan bahkan sempat unggul terlebih dahulu, tetapi di sampai saat-saat akhir Arsenal tidak mau menyerah. Hasilnya Cesc berhasil merebut bola dari Scholes dan langsung diteruskan oleh Rosicky dengan brilian ke arah Henry. Henry dengan sentuhan magisnya tanpa melihat ke belakang, menendang dengan tumit belakangnya ke arah Van Persie yang datang seperti kilat menghujamkan bola melewati Van der Saar dan Neville yang tak mampu menahan lajunya. Di masa injury time umpan crossing sempurna dari Eboue berhasil ditanduk secara cepat dan tanpa ampun oleh Henry untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1 untuk kemenangan Arsenal. Hore!!! Benar-benar puas saat itu. Tapi kemudian Arsenal tampil tak berdaya saat dikalahkan gol penuh spekulasi saat melawan tim bolotan macam Bolton. Dua hasil bagus yang diraih, yaitu saat berhadapan dengan Liverpool di Piala FA dan Carling Cup. Tentu yang sangat membekas di ingatan kita yaitu penampilan para young guns kita saat membabat habis tuan rumah Liverpool 6-3. Dua pemain yang menjadi bintang saat itu adalah Julio Baptista dan Jeremie Aliadere. Saat itu terutama Jeremie Aliadere tampil bak pemain kualitas top dunia. Dribbling, gayanya mengecoh lawan, umpan serta tendangannya semuanya sempurna. Sama sekali tak menunjukkan keraguan seperti yang kita lihat selama ini. Sayang sekali, penampilan fenomenal seperti ini hanya ditunjukkan Ali sekali saja, berikutnya di partai-partai lain dia kembali tampil biasa-biasa saja bahkan cenderung kurang. Sayang sungguh sayang, jika dia terus bisa berpenampilan seperti lawan Liverpool ini, dijamin pasti dia akan menjadi duet mega maut bersama Henry. Sayang sekali Ali…. Pada ajang Piala FA dan Carling, sebenarnya Arsenal tampil bagus dengan berhasil mengalahkan Liverpool, Tottenham dan Bolton. Meski melalui replay dan extra time, Arsenal berhasil mengalahkan 3 musuh yang biasanya sangat sulit dikalahkan oleh Arsenal. Namun mendung mulai bergelanyut ketika Arsenal kalah 0-1 di kandang PSV pada ajang Liga Champions. Saat itu dimulailah 2 minggu neraka Arsenal. Kemudian Arsenal kalah menyakitkan 1-2 lawan Chelsea di final Carling Cup, sayang padahal disini Walcott berhasil mencetak gol pertamanya untuk Arsenal. Mendung terus berlanjut di Piala FA, gol menit akhir McCarthy mengulang prestasi buruk Arsenal di Piala FA seperti musim lalu. Penderitaan pun ditutup dengan sangat menyakitkan dengan hasil imbang 1-1 lawan PSV yang sangat tidak cukup meloloskan Arsenal ke babak perempat final Liga Champions. Benar-benar dua pekan terburuk dalam perjalanan Arsenal. Hanya dalam waktu itu saja Arsenal benar-benar sudah dipastikan tidak mendapat trofi satupun di musim ini. Sungguh 2 pekan yang sangat tragis! Kehilangan semua kesempatan di semua ajang membuat Arsenal seakan-akan kurang darah, penampilan naik-turun kembali terjadi. Puncaknya terjadi saat dikalahkan begitu telak 1-4 oleh Liverpool. Sungguh permainan terburuk Arsenal yang pernah kita lihat. Semua pemain terlihat seperti tim Taman Kanak-kanak Arsenal. Bermain tanpa irama, umpan salah terus, tidak berani nendang kalau shoot-pun melebar semua. Sebaliknya Liverpool bisa mencetak gol dengan mudahnya. Benar-benar tidak bisa bernafas melihat Arsenal main seperti itu. Akhirnya musim ini pun Arsenal berakhir di urutan keempat. Peluang naik ke peringkat 3 sebenarnya sangat terbuka lebar karena Liverpool pun sering terpeleset beberapa kali, tetapi sialnya Arsenal pun ikut-ikutan, terlalu banyak hasil imbang sehingga harapan naik ke peringkat 3-pun kandas tanpa bekas. Sungguh musim yang buruk bagi Arsenal, kita hanya mampu melihat partai-partai final yang kesemuanya tanpa Arsenal. Jadi sebenarnya apa sih penyebab kegagalan Arsenal musim ini? Yang pertama yaitu perpindahan ke stadion baru. Seluruh pemain Arsenal begitu terbiasa dengan Highbury yang sempit. Pindah ke Emirates yang begitu luas, mengubah sedikit cara bermain disana. Tempat yang baru juga membuat mereka merasa asing. Seperti yang diakui, ketika bermain di Emirates mereka seakan-akan bermain di tempat netral bukan kandang sendiri. Hal ini diatasi pemain Arsenal dengan cukup terlambat. Yang kedua, gagal bersinarnya pemain-pemain baru Arsenal. Gallas, Rosicky dan Baptista gagal menunjukkan kualitas yang benar-benar menawan. Rosicky lumayanlah sekali dua kali membuat kita kagum dengan kecepatan larinya, tapi masih belum begitu istimewa. Gallas, memang tangguh dan membuat beberapa penyelamatan, tetapi juga terlihat kurang begitu maksimal dalam menunjukkan kalau dia adalah benteng tangguh yang sulit untuk dilewati dan beberapa kali melakukan kesalahan. Yang paling ketara adalah Baptista. Pemain ini sangat digadang-gadang akan bersinar terang. Dari dulu Wenger telah menginginkan pemain ini. Nama besar dan postur tubuh yang ideal membuat kita optimis dan menaruh harapan besar padanya. Mengenyampingkan tenggelamnya dia di Madrid dan yakin betul dia akan menemukan kembali form terbaiknya di Arsenal. Tapi hingga akhir musim, penampilannya pun biasa-biasa. Terlalu mudah jatuh, bola terlalu mudah direbut lawan, passing yang sering salah dan yang paling mengecewakan yaitu ketidak akuratannya dalam menendang ke arah gawang. Memang dia mencetak beberapa gol tetapi tidak terhitung lagi berapa banyak peluang yang terbuang percuma olehnya. Yang ketiga, kurang beraninya pemain Arsenal menendang ke gawang. Musim ini benar-benar terlihat jelas begitu sulit pemain Arsenal untuk mencetak gol. Banyak sekali peluang emas yang terbuang sia-sia gara-gara pemain Arsenal masih takut untuk langsung menendang ke gawang tapi lebih suka dioperkan dulu ke temannya, padahal temannya masih mendapat pengawalan begitu ketat. Akibatnya sungguh mudah ditebak, serangan yang hebatpun berakhir dengan sia-sia. Kita butuh pemain seperti Kaka atau Gerrard yang begitu tidak pernah kenal lelah menendang ke arah gawang. Meski dibilang tidak selalu berhasil, tapi begitu serangan sudah mentok dan tidak memungkinkan lagi untuk dioper, mereka tidak pernah segan menembak langsung. Gol atau tidak itu urusan belakang, yang penting mereka sudah mencoba. Hal ini tidak terlihat di kubu pemain Arsenal. Gallas mengatakan Arsenal kekurangan pemain berpengalaman. Tetapi menurutku, lebih tepatnya Arsenal kekurangan pemain bintang! Entah itu tua atau muda yang penting pemain itu begitu menonjol kemampuan individunya. Di Arsenal kita hanya punya Henry yang benar-benar dicap sebagai pemain bintang. Pemain bintang ini sangat besar perannya. Ambil contoh seperti di MU, ketika Ronaldo bermain sangat bagus, performanya ikut mendorong rekan-rekannya untuk berani mencoba bermain baik dan mencoba mencetak gol seperti dia. Ketika Ronaldo sedang kurang bagus masih ada Ryan Giggs. Di Arsenal, mereka terlalu tergantung dengan Henry. Sedangkan kita tahu, musim ini Henry bermain sangat tidak maksimal. Sering cedera dan ketika bisa bermainpun tidak begitu bagus seperti musim-musim lalu. Banyak juga tendangannya yang meleset. Melihat ini pemain Arsenal lain menjadi keder. Dipikirnya Henry aja nendang meleset, apalagi kaya mereka. Akibatnya terlihat jelas, pemain Arsenal sangat takut dan ragu untuk menendang langsung dan lebih suka mengoperkannya ke striker atau rekan yang lain. Cesc sudah menyadari hal ini, dia mengatakan Arsenal harus membayar mahal gara-gara ketakutannya untuk mencoba menendang. Di laga lawan Chelsea, di akhir-akhir pertandingan dia terlihat sekali mencoba melakukan tendangan langsung ke gawang. Meski tidak selalu tepat, tapi jauh lebih bagus daripada terbuang percuma dioper ke teman yang posisinya tidak bagus. Lehmann juga mengatakan sebenarnya hanya 2 pertandingan dimana Arsenal benar-benar pantas kalah yaitu saat lawan Bolton dan Liverpool. Saat itu mereka benar-benar tampil buruk, tetapi untuk kekalahan yang lain lebih disebabkan kegagalan mereka untuk meneruskan segala peluang emas untuk menjadi gol. Yang keempat yaitu inkonsistensi. Musim ini Arsenal terlalu banyak meraih hasil imbang dan kalah. Ironisnya kebanyakan itu ketika berhadapan dengan tim-tim kecil. Berhadapan dengan tim besar justru mereka bisa menang. Sungguh aneh. Juga seringnya kebobolan terlebih dahulu, akibatnya Arsenal harus ketar-ketir berusaha untuk membalas dan sayangnya kebanyakan usaha itu gagal. Yang kelima sekaligus yang utama yaitu ketidakberuntungan yang datang kembali dan awet bersama Arsenal. Di musim ini tidak terhitung banyaknya, Arsenal sudah bermain bagus tetapi hasilnya sungguh tidak memuaskan. Gol tak kunjung tercipta. Yah terkena mistar gawang lah, yah kena kaki lawanlah atau bahkan melebar. Terlihat tidak ada keberuntungan disini. Lain halnya dengan tim lain, yang terasa begitu gampang menciptakan gol dan begitu sulit untuk kebobolan. Selalu ada saja yang membuat gawang mereka tidak kemasukan gol. Banyaknya pemain muda di Arsenal sering sekali dibuat bahan cemoohan. Hal ini tidak lain karena tidak ada prestasi yang didapat. Cerita bakalan akan menjadi lain kalau Arsenal juara, pemain-pemain muda ini akan dielu-elukan sebagai motor juara Arsenal. Tidak perduli lagi dengan pemain berpengalaman yang saat ini sangat disorot di kubu Arsenal. Sebenarnya pemain-pemain muda Arsenal sudah menunjukkan kualitasnya, tapi sekali lagi ketidakberuntungan mengubah semuanya. Hasil akhir yang membuat usaha keras dan bakat mereka seolah-olah tenggelam. Secara pribadi, aku sangat bersimpati pada Wenger. Dia begitu ngotot mencari pemain muda berbakat, dia ogah merekrut pemain-pemain mahal. Dia bimbing mereka dari nol dan diberi ajaran bagaimana bermain menyerang ala Arsenal. Tapi sayang seribu sayang karena ketidakberuntungan lagi, segala usaha baiknya itu seakan-akan menjadi bumerang baginya. Kebijakan pemain mudanya mendapat serangan sana-sini. Tetapi apa boleh dikata, apa saja yang kita katakan, apa saja yang keluhkan semuanya percuma karena musim telah berlalu. Hati ini tidak sabar menyongsong musim baru. Musim baru yang penuh dengan harapan Arsenal bisa bersinar seperti dulu lagi. Ingin sekali melihat Arsenal bisa mengangkat trofi lagi. Wenger pelatih yang hebat dan sangat besar jasanya, dia harus mendapat hasil yang setimpal, yaitu juara! Kami pun seluruh pendukung Arsenal, sudah sangat-sangat rindu untuk melompat kegirangan, menitikkan air mata haru, memenuhi hati ini dengan perasaan bangga melihat Arsenal juara. Harapanku semoga jika benar di tangan Stan Kroenke, Arsenal akan lebih baik, lepas saja! Semua hal yang akan membawa Arsenal ke arah lebih baik, memang harus dilakukan. Stan masuk dan akan membawa David Dein kembali masuk. David Dein masuk, otomatis akan meyakinkan Arsene Wenger untuk tetap bertahan di Arsenal. Wenger bertahan otomatis membuat Henry yakin untuk tetap di Arsenal, tidak perduli selicik apapun pendekatan yang dilakukan Barcelona. Kita semua sudah muak berita-berita yang menyebutkan Wenger akan pergi, Henry akan pergi dan Cesc akan ke Madrid. Tiga elemen penting itu harus terus bertahan di Arsenal. Salah satu saja hilang, tidak tahu bagaimana jadinya Arsenal nanti. Semoga masalah ini akan cepat terselesaikan dan Arsenal segera dapat berkonsentrasi penuh menghadapi musim baru. Musim yang tidak boleh dilalui lagi tanpa gelar. Melepas pemain-pemain yang benar-benar sudah tidak cocok untuk Arsenal dan merekrut lagi pemain-pemain baru yang akan membantu Arsenal bersinar lagi. Come on Arsenal! We’ll always support you! Viva Gunners! |
| < Prev | Next > |
|---|
ARSENAL 3 - 1 BURNLEY
Sabtu, 6 Maret 2010 | ENGLISH PREMIER LEAGUE
Gol: Cesc, Walcott, Arshavin
STOKE 1 - 3 ARSENAL
Minggu, 28 Februari 2010 | ENGLISH PREMIER LEAGUE
Gol: Bendtner, Cesc (P), Vermaelen
ARSENAL 2 - 0 SUNDERLAND
Sabtu, 20 Februari 2010 | ENGLISH PREMIER LEAGUE
Gol: Bendtner, Fabregas