Arsenal Indonesia
Bergabung dengan AIS | Review - Pradhana Azis |
|
|
| Thursday, 24 May 2007 | |
|
Akhirnya berakhir sudah musim kompetisi yang sangat melelahkan secara fisik dan mental. Perjalanan Arsenal di musim kompetisi 2006/2007 ditutup di Fratton Park dengan hasil kacamata, alias 0-0. Peringkat empat di klasemen akhir seperti mengulang pencapaian Arsenal di musim 2005/2006. Bagi klub sekelas Arsenal peringkat empat klasemen tentu bukan sebuah hasil yang menggembirakan, terlebih sudah dipastikan Arsenal tidak memperoleh gelar apapun. Tapi apa mau dikata, inilah hasil terbaik yang dapat diukir oleh skuad muda The Gunners. Paling tidak tahun ini Arsenal sudah menuliskan sebuah catatan baru dalam buku sejarah klub. Untuk kesekian kalinya Arsenal berpindah lapangan, namun untuk yang satu ini terasa lebih spesial. Arsenal boyonganSebelumnya The Gunners menempati stadion The Highbury yang jaraknya hanya 500 meter dari The Emirates. ke The Emirates Stadium yang berkapasitas 60.000 kursi. Sebelumnya kita mengenal Arsenal sebagai klub papan atas Inggris yang stadionnya paling kecil dan paling sempit Ukuran lapangan Highbury “hanya” 100,5 x 66,7 meter, sedangkan Emirates lebih luas, 113 x 73 meter.Kapasitas Highbury pun “hanya” 38.500 kursi, ditambah lagi jarak kursi terdepan dengan lapangan taklebih dari 5 meter saja. Keputusan membangun stadion baru di kawasan Ashburton Grove dirasakan sebagai sebuah keputusan yang tepat. Seiring dengan berjalannya waktu sepakbola Eropa telah mengalami transformasi penting, dari yang semula hanya sekedar olahraga massal menjadi sebuah industri olahraga raksasa. Perseteruan antar klub pun kini tak hanya terjadi di lapangan hijau, pertarungan itu kini telah merambah teritori finansial. Ini menjadi sebuah konsekuensi logis dari sepakbola sebagai industri olahraga. Tentunya akan kian lengkap apabila prestasi mengkilap dan uang juga didapat. Keputusan membangun The Emirates pun tak lepas dari berbagai pertimbangan finansial. Salah satunya adalah untuk semakin memperbesar pendapatan klub dari pos penjualan tiket. Secara perhitungan kasar dengan pindah ke Emirates paling tidak pendapatan Arsenal dari sektor tiket akan meningkat satu setengah kali lipat dibanding ketika masih bermarkas di Highbury. Pendapatan besar tentu akan semakin membuat Arsenal lebih fight dalam menghadapi persaingan dengan lawan-lawannya di Eropa. Bukan hanya dikenal sebagai klub yang stadionnya paling sempit, Arsenal juga sempat dijuluki sebagai klub juara yang medioker. Medioker dalam hal pembelian pemain. Reputasi Arsenal melahirkan pemain bintang tak perlu diragukan lagi. Salah satu prestasinya adalah ketika mampu menemukan bakat brilian Nicolas Anelka dan kemudian menjualnya ke Real Madrid pada 2 Agustus 1999 dengan harga sangat tinggi, 23 juta pound. Tapi tetap saja Arsenal adalah klub juara yang paling ogah membeli pemain mahal, semahal-mahalnya pemain Arsenal yang pernah dibeli adalah Sylvain Wiltord dari Bordeaux seharga 13 juta pound. Berarti TH14 yang sekarang menjadi dewa di Emirates ketika dibeli dari Juventus harganya tak lebih dari 13 juta pound. Prestasi memang tak selalu berbanding lurus dengan pemain mahal. Chelsea pun belum mampu merengkuh trofi Liga Champions meski sudah digelontor dana lebih dari 400 juta pound. Tetapi berharap pada pemain belia untuk mampu kompetitif di level tertinggi seperti Arsenal rasanya seperti bermimpi di siang bolong. Usia rata-rata pemain Arsenal di musim 2006-2007 adalah 24,71 tahun. Salah satu tim yang rata-rata usia pemainnya masih muda. Pemain muda biasanya masih mempunyai fisik yang prima, selalu bersemangat dalam setiap pertandingan, totally untuk karir sepakbolanya, tetapi kekurangannya stabilitas permainan dan emosinya masih kurang. Biar bagaimananpun pengalaman dan kedewasaan tetap diperlukan, sebab permainan sepakbola bukan hanya kekuatan fisik. Jadi tidak cukup hanya mampu berlari selama 90 menit. Kesuksesan AC Milan menembus final Liga Champions 2007 pun tak lepas dari faktor ini. Keputusan manajemen Arsenal untuk melepas sejumlah pilar tua yang dianggap sudah out of date ternyata harus dibayar mahal dengan hasil tanpa gelar selama 2 musim. Lauren, Sol Campbell, Robert Pires adalah beberapa nama dimaksud. Padahal bila mereka masih ada paling tidak bisa menjadi tutor bagi skuad muda Arsenal, sekaligus sebagai back-up. Ketiadaan pemain senior membuat pemain muda seperti harus berjuang sendiri mematangkan permainannya. Tidak ada lagi komunikasi dua arah senior-junior dimana mereka bisa saling membagi cerita dan pengalaman. Pencapaian Arsenal di musim ini ditutup dengan prestasi sebagai penghuni peringkat 4 Liga (lagi). Mengemas 68 poin hasil dari 19 kali menang, 11 kali seri dan 8 kali kalah, dengan total gol 65 dan kemasukan 35. Prestasi ini seperti mengulang pencapaian di musim 2005-2006. Secara umum penampilan Arsenal di musim ini kurang mengesankan. Kedodoran di awal musim membuat Arsenal tersingkir dari persaingan merebut tahta juara English Premier League. Meski pada periode Desember dan Januari mampu memperbaiki diri, tapi itu semua sudah terlambat, sebab lawan sudah berlari jauh meninggalkan Arsenal. Permasalahan Arsenal di musim ini ada 3, pertama masalah cedera pemain, kedua konsistensi permaian, dan ketiga terlalu banyak bermain cantik.
Start
Arsenal di awal kompetisi sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Tujuh kemenangan,
dua seri dan satu kekalahan pada sepuluh pertandingan awal sebenarnya sudah cukup memberi sinyalemen
bahwa Gudang Peluru akan meledak. Namun ternyata prediksi itu meleset, di bulan November Arsenal hanya
menang 3 kali, seri 2 kali dan
Sepertinya Arsenal tidak belajar dari Brazil beberapa periode lalu, terlalu asyik mengusung sepakbola Jogo Bonito berakibat pada jebloknya prestasi timnas Brazil. Padahal di masa lalu Arsenal dikenal dengan pemain-pemain bertipe lugas, tidak seperti sekarang sebagian besar pemainnya bertipe “penari”. Tony Adams, Patrick Vieira, Emmanuel Petit, Gilles Grimandi, Lee Dixon, Nigel Winterburn, Ray Parlour, Ian Wright, dan Dennis Bergkamp adalah beberapa figur yang dikenal mempunyai permainan lugas (juga sedikit keras) dan efektif. Sekarang mana yang lebih penting, bermain cantik tapi minim gol atau bermain lugas, mencetak gol dan menang ? Satu-satunya oase di tengah keringnya prestasi Arsenal ada pada sosok Cesc Fabregas, pemain belia asal Spanyol yang dibeli dari Barcelona. Pada usia 19 tahun pemain ini telah menunjukkan kematangan dan kedewasaannya. Kemampuannya menjadi jendral di lapangan tengah Arsenal seperti tak sesuai dengan usianya yang masih ”bocah”. Ia begitu diandalkan oleh Wenger, 49 kali masuk starting line-up dan 5 kali sebagai pemain pengganti. Cesc, begitu ia biasa dipanggil, seperti sedang unjuk diri di musim ini. Terpilih sebagai pemain terbaik EPL periode Januari 2007, empat kali terpilih sebagai pemain terbaik bulanan versi situs Arsenal.com dan kandidat pemain musim ini versi situs Arsenal.com. Melihat permainan Cesc kita seperti lupa bahwa dulu kita pernah begitu mengagumi Patrick Vieira. Yang pasti di tahun-tahun mendatang Cesc akan menjadi salah satu pilihan utama di skuad The Gunners. Arsenal mungkin hanya akan meraih 1 gelar domestik musim depan (Piala FA atau Piala Liga), atau bahkan masih akan puasa gelar. Peluang meraih juara EPL atau Champions League rasanya masih berat. Sekali lagi ini hanya prediksi. Bisa terbukti, bisa juga tidak. Tapi dengan materi pemain yang relatif solid dalam kurun 3 tahun terakhir ini diperkirakan Gudang Peluru akan meledak pada season 2008 – 2009. Unfortunely football is unpredictable. So, the results? Only god know. |
| < Prev | Next > |
|---|
ARSENAL 3 - 1 BURNLEY
Sabtu, 6 Maret 2010 | ENGLISH PREMIER LEAGUE
Gol: Cesc, Walcott, Arshavin
STOKE 1 - 3 ARSENAL
Minggu, 28 Februari 2010 | ENGLISH PREMIER LEAGUE
Gol: Bendtner, Cesc (P), Vermaelen
ARSENAL 2 - 0 SUNDERLAND
Sabtu, 20 Februari 2010 | ENGLISH PREMIER LEAGUE
Gol: Bendtner, Fabregas